Setiap orang pasti mempunyai mimpi, begitu juga dengaku. Dulu aku menganggap mimpi cuma bermimpi hanya sekedar pelampias angan-angan. Terluka oleh tajamnya kerikil kehidupan, aku menepi dan bermimpi tentang banyak dunia, yang selalu aku adalah raja di dalamnya. Banyak hal harus dilakukan. Ada hal besar yang baru saja gagal. Ada kesedihan, ada kekecewaan. Padahal, dunia nyata inipun tidak benar-benar nyata. Cuma sekedar senda
gurau saja karena itulah, yang nyata adalah nyata. Yang benar adalah
benar. Berapa kali pun aku mencoba menipu diriku sendiri, akalku selalu memberikan peringatan selanjutnya hati kecilku yang kemudian bermain. Hari demi hari ku lalui memaksa diri ini untuk menerima semua yang
tersimpul benar. Rasanya seperti luka menganga, dijahit
tanpa bius. Pedih ketika menerima hal yang menyakitkan. Namun, mengapa
menipu diri sendiri? Hari demi hari, ku jalani dengan heran demi heran, orang lain seringkali menolak sesuatu yang tampak jelas. Aku meyakinkan diriku sendiri untuk membantah mereka agar mereka
membantahku juga dan mengatakan alasannya.
"Bagaimana mungkin mereka semua
menganggap hal ini benar? Apakah mata saya yang tertutup? Tell me with
an argument! Bantah aku, karena aku berharap kaulah yang
benar dan akulah yang salah."
